Wednesday, October 5, 2011

Cintaku pada dakwah dan tarbiyyah.

Bismillah.

(Ya Allah. Lamanya tidak menyentuh aksara ini. Demi Allah, aku rindu. Rindu untuk mencari-cari cinta "semakin aku menulis, semakin aku hampir menjumpai cinta.." Di waktu getir sebegini, di waktu-waktu sang masa menaklukkan aku, aku mencuri seketika waktu yang aku ada ini untuk berkata indah-indah tentang cinta. Izinkan aku untuk bersentimental seketika..:)

Betapa indahnya sebuah tarbiyyah dan dakwah itu. Maha Suci Allah, yang jiwaku dalam genggaman-Nya, tarbiyyah mengajarkan aku tentang banyak perkara. Seorang yang jahil, dan entah dari mana datangnya cahaya itu, tak pernah kusedari, lalu mendekatiku. Dan aku mula tenteram tatkala diriku didekatinya.

Aku sedikit-sebanyak mula belajar hakikat 'menyampaikan', pada waktu itu. Entah dari manakah datangnya kekuatan dalam diri ini, hati bagai disentuh untuk mula merasa ketenteraman itu, aku bertanya-tanya "inikah yang aku cari sebenarnya?"

Ternyata jawapannya - ya.

Allah. Inilah yang kucari. Bukanlah setiap nikmat yang dikejar dan dibanggakan manusia seisi dunia yang akar tunjangnya nikmat itu datang dari Tuhan juga - kemewahan, pangkat, darjat yang hanya wujud cuma di dunia. Tetapi, hati nurani yang bernama manusia ini dituntut berupa sesuatu dari Tuhannya, berupa ketenteraman. Benar, ketenteraman itulah yang dimahukan. Setiap manusia mahukan itu hakikatnya. Sungguh. Antara sedar atau tidak, antara tahu atau tidak.

Entah sudah berapa musim, tarbiyyah, dakwah yang menemani aku sampai ke hari ini (subhanallah) mengajarkan aku bukan semata penat lelah dari segala usaha di atas tanah Tuhan ini, tetapi nikmat dan ketenteraman yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata di atas keikhlasan, pengorbanan, dan kecintaan.

Maka, kalau dari dulu, sebelum mengenali tarbiyyah, di kelilingku pasti bukan di kalangan sahabat-sahabat yang berdiri atas tarbiyyah. Dan aku, sehingga mengatakan tak pernah wujud manusia mulia di dunia ini. Tak wujudnya manusia yang berhati jujur dan ikhlas, semuanya pentingkan diri, semuanya ada niat yang busuk, dan sebagainya.

Subhanallah, dalam tarbiyyah ini, benar-benar aku telah menjumpai banyak manusia yang mulia hatinya. Manusia yang mengenali Islam yang syumul, sudah tentu hatinya juga Islam. Yang hidup di dalam tarbiyyah. Mereka yang menakjubkan aku. Yang pada saat-saat getir saudaranya meminta pertolongan, mereka sanggup berkorban tak pernah berkira dan tak akan menyebut-nyebut akan pertolongannya. Dan mereka adalah jiwa-jiwa yang mengerti makna 'ithar' - ukhwah yang paling tertinggi sekali - mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya, mendahulukan saudaranya melebihi dirinya dalam keperluan dunia. Subhanallah. Biar tidak setanding ukhwah di antara Rasulullah dan para sahabat yang paling menakjubkan seisi dunia, sekurang-kurangnya ada yang kujumpa dan bersedia mencapai tahap itu dalam tarbiyyah ini. Allahu akbar.

Dalam tarbiyyah ini, aku bertemu dengan orang-orang yang tak pernah aku kisah dari mana datangnya dia, kesukaannya, kelemahannya. Di sini aku belajar untuk mula menerima manusia. Menerima siapa pun mereka, kelemahan mereka.

Dan Allahu akbar, yang sejatinya diri ini seorang degil, tegas, emosi, kalau marah tak pernah tertahan, kurang bersabar, ganas, kuat memberontak, "lantak akulah" - tapi tarbiyyah ini mengajar aku kepada sikap-sikap orang mukmin yang dicintai Allah itu adalah yang tinggi sabarnya, yang kuat menahan amarahnya, yang berlapang dada dalam setiap keadaan. Dan semua ini telah mengubah aku dari luar kebiasaanku dan bukan diriku. Seakan-akan menjadi orang baru namun yang dominan dalam diri aku sudah tentu sukar untuk diubah dan tak pernah dapat untuk diubah - seperti degil terutamanya. Namun akibat dari apa yang sejati tumbuh dalam diriku seperti yang kusebut di atas tadi, aku akui sukar untuk mengurus emosi. Kadangkala, bermujahadah dari marah dan bersabar, sangat sulit oleh orang seperti diriku. Maka, aku belajar untuk berkorban. Berkorban membuang sikap jahilku. Alhamdulillah, Allah juga banyak bantu. -_- *sebak*

Maha Suci Allah, yang selalu mengasihani hamba-hamba-Nya. Sebagaimana dalam diri ini terlalu banyaknya kelemahan, Dia mendidikku melalui tarbiyyah. Bertemu dengan orang-orang yang menakjubkan, yang bisa menyentuh hatiku, sehingga aku menjadi cair. Sehingga aku dilembutkan. Atas izin Allah semua ini, yang menghidupkan ruh tarbiyyah untuk tumbuh dalam jiwaku.

Dan sebenarnya inilah berupa nikmat Allah yang selalu membuatkan aku menjadi sebak. Yang menjadikan aku semakin yakin atas jalan ini - kerana Allah semata - maka tak ada suatu kegentaran yang mengundang. Maka, di sisi kita, hidupnya saff para malaikat dan makhluk-makhluk yang tak pernah betah sujud memuji-Nya - mereka hidup di sisi kita - di sisi-sisi manusia yang berusaha sedaya upaya untuk tegakkan agama-Nya. Mereka bersama kita di dalam saff ini.

Dalam tarbiyyah ini, wujudnya pelbagai pertolongan Allah tanpa disangka-sangka. Ramai yang menghulurkan pertolongan, ramai peduli, ramai berkorban - kerana tahu kita bekerja untuk apa. Lalu, kerana tujuan kita untuk Tuhan dan agama, sentiasa akan ada pertolongan tak disangka-sangka. Biarpun pertolongan itu dihulur dari manusia-manusia yang menakjubkan, tetapi aku yakin, semua ini sebenarnya atas izin Allah. Dan pertolongan itu datang dari-Nya. Ya Allah, kepada-Mu segala kesyukuranku. *dan saat ini air mata bergenang di kelopak mata*

Sungguh, tak mampu untuk kuungkapkan betapa besarnya cinta yang kudapat dari dakwah dan tarbiyyah ini. Kuatnya seseorang untuk teguh di dalam dakwah dan tarbiyyah, bukan kerana dirinya dan usahanya. Tetapi kerana bersandarkan pada Allah atas segala-galanya 100%. Tak pernah ada sangsi dan ragu-ragu biar pun 0.01%. Jika ada, cepat-cepatlah buang ia. Jika ada, pasti jiwa ini masih tidak tenteram. Pasti akan ada kecewa yang tidak bersandarkan pada kekuasaan Allah semata.

Allah Maha Kuasa. Yakinlah pada ini. Dan di saat-saat getir, di hadapan segala musibah, "Allah Maha Kuasa. Manusia tak ada kuasa biar sedikitpun. Maka bantulah aku ya Allah, tolonglah aku sekarang ini" dan subhanallah, pertolongan Allah turun waktu itu juga. Antara percaya atau tidak sahaja. Banyak yang telah terjadi dalam diriku, dan memang benar, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah mengasihi hamba-Nya, dan tak pernah membiarkan kita. Percaya pada ini.

*sebak. air mata jatuh lagi*

Entah sudah berapa musim, bukan mahu berkata bahwa aku telah mendapat ilmu yang cukup dan ilmuku sudah tinggi, tidak. Berada di dalam tarbiyyah ini bukan untuk memperlihatkan "I'm holier than thou" tetapi keberadaanku di sini untuk berada tetap di atas tali-tali ini agar tak jatuh. Dan dakwah tarbiyyah ini yang tetap menemaniku. Tika aku jatuh dan lumpuh, dakwah dan tarbiyyah memperkuatkan aku, membangunkan aku. Inilah booster untuk aku. (dan aku pasti untuk kamu juga kan teman? :) Tika aku senang, dan senangku itu akan sangat bahagia bersama dakwah dan tarbiyyah.

Maka, andai dakwah dan tarbiyyah yang menemaniku di setiap kejatuhan dan kebangkitan diriku, bagaimanakah aku boleh meninggalkannya? Bagaimana aku boleh berpisah dengannya?

Aku yakin, untuk kamu yang membaca ini lalu mengerti, kamu dapat merasakan apa yang aku rasa. Aku yakin kita berada di jalan yang sama. Barangkali mata kita tak pernah ketemu, tapi hati kita sudah bersatu. Bukan?

Dan cintaku pada dakwah dan tarbiyyah ini juga adalah keizinan dari Sang Maha Cinta yang menciptakan cinta dalam hati yang mudah rapuh ini terhadap keimanan dan kebaikan. Allah yang memegang hati kita.

“Akan tetapi Allah menjadikan kamu mencintai keimanan, dan menjadikan iman itu menjadi hiasan hatimu, membuat kamu membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dari Allah dan kenikmatan dariNya. AI­lah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hujurat: 7-8)

Ya Allah, ini juga kuasa Allah - yang menjadikan kita mencintai pada keimanan. Jika bukan kuasa Allah, maka barangkali kita bisa dijadikan untuk mencintai kekufuran dan kemaksiatan. Benar-benar hati ini hanya Dia yang pegang. Kita tak ada kuasa, tetapi Allah yang berkuasa. Maka, mintalah dengan sepenuh optimis agar Tuhan menjadikan kita di antara yang dicintai-Nya.

Sebuah puisi yang menyuarakan sebuah makna cinta, membaca puisi ini membuatkan aku tak tertahan untuk mengepilkan ia dalam tulisan kali ini;


Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur,
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.

*Petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M

Dan kerana pinginnya diri ini untuk tetap mahu menulis pada saat ini walaupun di saat-saat dilanda sibuk dengan dunia, tangan tetap tergesa-gesa mahu menuliskannya, kata-kata juga pecah berkeping-keping untuk menyampaikan ia, dan saat ini, bersendirian di kamar, aku menulis dengan penuh cinta dan rindu. aku benar-benar ingin merasai cinta ini walau hanya dengan menulis. tiada tempat yang mampu untuk kuluahkan, kututurkan dengan kalimat-kalimat cinta, maka di sini aku meluahkan ia.

Pun sungguh telah kuluahkan dengan kata-kata, tiada kata-kata sebenar yang lebih indah dari apa yang dirasa. Meletakkan kata pada ia seakan merendah-rendahkan rasa yang dirasa (from someone).

Maka, aku berhenti di sini. sekurang-kurangnya hati aku kembali berbunga. terima kasih Tuhan atas nikmat yang Kau berikan kepada hamba-Mu tak henti-henti sampai ke detik ini.

Salam cinta dan rindu,
-wardatul shaukah-
teratak kauthar,
5 oktober, rabu,
medan, indonesia.