Saturday, May 28, 2011

Harga rindu buat kamu, sahabat.

Sahabat,
Alangkah indahnya jika kau ada bersamaku tika ini
Alangkah indahnya jika aku dapat meluahkan segala rasa yang aku ada
Alangkah indahnya jika dapat berbagi bersama,
Betapa aku terlalu kehausan teguranmu,
Kasihmu, senyummu, tawamu, tangisanmu, dakapan eratmu, cintamu..
Betapa saat ini, dengan penuh aku berharap, jika aku bertatap mata denganmu,
Kuingin meleraikan air-air jernih dari kelopak mataku
Aku ingin menangis di hadapanmu, sahabat..
Aku ingin kau merasakan apa yang kurasa..
Aku ingin kau dengar tiap butir kata yang lahir dari lubuk hati yang hampir tak tertahan..
Lalu, kau pujuk aku, dan mengatakan bahwa aku masih kuat..
Biarpun dengan beribu tantangan di hadapanku.
Ingin benar aku mendengar kau mengatakan bahwa bagaimana pun aku ini, kau masih di sisiku..
Setia bersamaku,
Aku terlalu rindu pada kasihmu sahabat..
Dan hanya aku, kau tahu, tentang harga rindu kita yang tak pernah dibuat-buat..
Hanya kita mengerti rindu kita seperti apa..
Betapa hanya Allah Maha Tahu tentang persahabatan kita yang terlalu mahal harganya,
Sehingga ingin kita tebus dengan syurga..

Jaga diri.

Aku yang terlalu rindu,
teeny.

p/s: saya rindu pada sahabat baik saya, sahabat tawa, nangis, dunia, akhirat. insyaallah. rindu yang tak mampu diluahkan hanya dengan sebatang pena dan selaut kata..

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Nisa' Wa Rijal (ii)

"Perempuan kuat perasaannya. Lelaki kuat fikirannya. Kekukuhan satu rumahtangga harus merupakan gabungan perasaan dan timbangan fikiran. Jadi siapa lagi yang akan membimbing perasaan kalau bukan fikiran." - Buya Hamka.

Thursday, May 26, 2011

La Tahzan #4 : Tenteramkanlah jiwamu.

Pernah tidak kamu merasakan yang kamu sangat memerlukan seseorang saat kamu rasa kosong dan sedih? Saya yakin sesiapa pun pernah. Terutamanya perempuan, macam saya. Bila kita meluahkan pada seseorang, kita sebenarnya tak mampu meluahkan segala yang terpendam, tapi kita cuba supaya orang itu merasai apa yang kita rasa. Dan akhirnya, respon yang kita harapkan agar bisa mententeramkan kita akhirnya tak memuaskan. Kerana orang kata, bila kita meluahkan, sakit itu akan terubat. Bahkan tidak. Kalau ya pun, cuma sekejap saja. Akhirnya kita masih merasa kosong. Dan kosong. Pada sisi yang lain, bahkan kita bertambah kecewa. Pabila respon yang diberikan tak memberangsangkan dan alakadar saja. Kerana memang sifat seorang manusia, yang mahukan lebih dan lebih dari biasa. Expect lebih, demand lebih. Maka, kata-kata hatinya tak terpenuhi.

Tapi, pernahkah dalam waktu-waktu seperti itu kita berfikir, yang kita inginkan sebenarnya adalah Tuhan? Pernahkah kita merasa, pada saat itu, hanya Tuhan yang setia menemani kita? Mendengar kita? Mengasihani kita? Memang kita tak mendengar jawapan-Nya, memang kita tak dapat melihat-Nya. Tapi, ada satu hal yang diberikannya pada kita. Yaitu: tenteram. Ketenteraman yang hebat. (tak mampu diungkapkan sebagaimana, kecuali mereka sendiri yang pernah merasa). Percayakah? Sebenarnya tak ada siapa yang mampu memuaskan hati kita, tak ada siapa yang mampu menjadi pendengar yang baik, tak ada siapa yang mampu memahami diri kita, melainkan Dia. Dia lebih memahami kita, lebih dari diri kita sendiri. Maka, jika kamu merasa sedih dan kosong, kembalilah pada-Nya. Jangan menyalahkan orang lain dan mengatakan orang lain tidak memahami kamu, kerana kamu juga tidak mampu memahami orang lain, kan? Allah itu adil, bukan?

Kerana itu Dia kata, apa saja yang berlaku pada kita, kembalilah pada-Nya. Dengan mengingati Allah hati akan menjadi tenteram. Kata-kata ini bukan senda gurau, bukan hanya basa-basi. Tapi, demikian tegasnya kata-kata ini, bahwa Dia menyuruh kita kembali pada-Nya untuk menikmati hati yang tenteram. Dan pada saat kita merasa sedih dan kosong, lalu kita mengharap pada manusia untuk mengisi ketenteram di jiwa kita lebih dari mengharap pada-Nya, maka percayalah. Kamu akan terus merasa kecewa, dan kecewa. Kerana, Allah sedia mengatakan, syarat ketenteram itu adalah dengan mengingati-Nya.

Pun begitu, kita mampu mendapatkan ketenteraman dari sang sahabat, seperti Muhammad berkata kepada sahabatnya, Abu Bakar yang dilanda sedih dan takut; La takhaf, wa la tahzan, innallaha ma'ana. Jangan takut, dan jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

Dan syarat ketenteraman ini juga, untuk kembali pada Tuhan kan? :)

Demi jiwa kita, di dalam genggaman-Nya.

Friday, May 20, 2011

Jaulah ke Gunung Sibayak, Medan

#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

#11

Notakaki 1:
#4: tidur di atas-atas batu tu memang enak. haha
#5: bertolak dari rumah lebih kurang jam 3am. sampai di sana dalam jam 5am. semata-mata untuk melihat sunrise. inilah yang tak seberapa.
#8: ini adalah Gunung Sinabung. pemandangan dari Gunung Sibayak.
#10: langit biru itu sangat indah. subhanallah.
#11: here we are~
Notakaki 2: kredit untuk sahabat2 punya kamera :)