Saturday, January 29, 2011

Aku ingin ikhlas mencintai-Mu



rabbi,
izinkan aku sebut asma-Mu penuh sendu
tangiskan aku dalam dakapan kasih-Mu tersedu-sedu
kasihani aku supaya terhindar dari noda, dan merasa malu.

rabbi,
paut aku pada hidayah-Mu yang benar,
jangan beri izin aku rebah pada batil yang kian berjajar
hingga aqidahku rompong, batinku tercalar.

rabbi,
aku ingin mencintai-Mu seluruh jiwa jasadku
datanglah padaku, sinarilah cahaya rabbani-Mu
hingga aku tak melihat lagi apapun selain-Mu.

rabbi,
sudilah terima aku yang kadang angkuh dalam lumpuh
ikhlaskan aku taat menyembah-Mu penuh seluruh,
meski kadang dengan imanku yang goyah
dengan ibadahku yang rapuh patah-patah.

rabbi,
jarakkan aku dari khilafku dengan jarak yang paling jauh
sehingga tak didekatinya aku, sampai menyungkur aku jatuh
meski dengan taqarrabku compang-camping nan lusuh
kemurahan-Mu tak terkalahkan sebilang makhluk-Mu, nan bisa luluh,
semulia arasy-Mu yang utuh.

ilahi rabbi,
ampuni aku yang sering berbuat dosa tak pernah jemu
bukan kerna aku tak percaya azab-Mu,
bukan juga kerna memprotes zat agung-Mu
tetapi kerna tertipu dengan nafsuku yang membujuk rayu.

ya rabbi..
aku ingin ikhlas mencintai-Mu
dengan sebenar-benar cinta seorang abdi pada Tuhannya
dengan kekhusyukan hati yang senada dalam iftitahku;
solatku,
ibadahku,
hidupku,
matiku,
adalah untuk-Mu.

ilahi rabbi...

wardatul shaukah,
teratak mawar, dhuha, medan.
(ditarbiyyah dengan demam+flu+batuk dalam kafarah-Nya)

Tuesday, January 11, 2011

Sabar itu tiada batas, kawan.

Janganlah dipersenda akan sifat kesabaran yang berkali-kali ditujukan buatmu pada saat kamu sudah tidak mampu bersabar lagi. Mungkin sabar itu bersifat eksentrik, tapi hanya hati-hati yang murni bisa merasainya, hanya jiwa-jiwa khusyuk bisa mengecapinya.

Yaitu, jiwa-jiwa rabbaniyah. Jiwa yang dipenuhi dengan kekuatan ruhiyyah.

Bila diserukan kesabaran, maka dia terus mengingati Allah, dan dia benar-benar bersabar. Dengan kesabaran yang sebenar-benarnya.

Bukan dengan mengatakan; "Sabar, sabar juga. Sabar aku ada batas."

*Senyum*

Sabar itu tiada batas, kawan. Bagaimana kamu boleh mengatakan kamu sedang bersabar dalam kemarahan? Adakah orang itu benar-benar bersabar saat dia sempat menghunjamkan kemarahannya sehingga dia benar-benar marah?

Pada saat kamu telah mengatakan akan batas-batas kesabaran, bermakna sabar kamu telah hilang. Kamu tidak dapat menggapai kesabaran itu. Maksud saya adalah, sabar yang sebenar-benarnya.

Innallaha ma'assobirin. Allah bersama orang-orang yang sabar.

Cubalah kamu renungkan ciri-ciri orang yang sabar. Sabar; tidak akan pernah diceritakan pada sesiapa pun tentang kesabarannya. Sama ada dalam kemarahan, ketidaksanggupannya terhadap derita yang dialaminya, atau pun segala keperitan yang menguji kesabarannya. Dia tak akan pernah mengeluh dengan mengatakan "aku tengah bersabar ni.." dan memberitahukan bahawa dia menderita dalam kesabaran.

Tidak, tidak sekali-kali orang sebegini adalah orang yang benar-benar sabar.

Sabar itu diam; senyap; eksentrik; tanpa reaksi; tidak mengeluh; tidak mengungkit.

Dan sampailah ke tahap dia benar-benar betah, kebal, sehingga apa yang diuji kepadanya itu mampu diterimanya dengan senyuman. Bila dicela, senyum. Bila dipukul, diam. Tidak lagi gentar akan apa pun datang kepadanya, kerana dia sudah bersiap-siap dengan senjata jiwanya; yaitu sabar.

Memang, berkata-kata lebih mudah berbanding melakukannya. Saya juga tidak jamin akan sifat kesabaran dalam diri saya ini adalah sabar yang sebenarnya. Kerana sabar antara sifat utama orang-orang mukmin. Menjadi orang mukmin tidaklah mudah, begitu halnya ingin memasuki syurga. Tapi, tidak juga susah jika jiwa dahaga akan keinginannya.

Dan pada setiap kali, pabila sabar itu diserukan padamu, maka bersabarlah. Sabar dengan sebenar-benarnya.

Diam; sepi; senyap; eksentrik; jangan diperkatakan; jangan mengeluh; jangan mengungkit.

Dan bukan jua dengan mengatakan "Aku sudah puas bersabar"

Memang benar, sahabat. Ianya sangat sukar. Semua orang tahu kebenaran itu. Pun bagi diriku sendiri, sabar itu perasaannya seperti rasa "mahu mati" dan cepatlah agar semua ini beredar dari hidup, tetapi inilah titik-titik kelemahan kita, yang perlu kita ubah ia dari asalnya 'benda asing' yang diharuskan untuk turut diaduk dalam resepi, agar rasanya sebati dalam jiwa. Sehingga kita tak pernah canggung akan segala perkara yang membuatkan kita tak betah lagi menghadapinya.

Begitu kata Arwah Pak Rahmat Abdullah yang saya hormati;

“Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita. Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan. Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan. Orang yang mudah tersinggung dan mudah marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah. "

Dan, tadabbur lah surah al-asr yang menyeru kita untuk saling menyeru kepada kebaikan, dan menyeru kepada kesabaran.

وَالْعَصْرِ Demi masa.
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

Bukankah kita juga diseru kepada kesabaran? Maka, janganlah dipersenda akan kesabaran. Sabar bukan bererti lemah. Bukan bererti kalah. Cuma kebisuan yang ditunda sehingga dapat mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permaidani-permaidani yang indah di taman syurga. (55;76)

Wallahu 'alam.

WS, 12 Jan 2011,
Kota Kinabalu, Sabah.

Nota 1: Saya semakin rindu dengan Jakarta; tentang akhwat-akhwatnya; juga tentang buku-bukunya yang paling murah di dunia. Ada rezeki atau panjang umur, kita berjumpa lagi, Jakarta :)

Nota 2: Semester 6, here I come!

Monday, January 3, 2011

Perjalanan ke Bogor dan Jakarta; noted.

Bismillah.

Segala puja dan puji hanya untuk Allah, milik sekalian alam. Aku masih bernafas atas kasih sayang-Nya. Subhanallah.

Sudah sebulan lebih tidak membasahkan pena. Pun bukan jiwa semakin kering, tetapi tidak berkesempatan untuk menutur kata-kata di teratakku yang semakin suram ini. Kawan, kamu apa khabar?

Terasa rindu pula untuk menulis dan bercerita di teratak ini. ;')

Seusai peperiksaan akhir semester yang lalu, aku kira ingin menulis, tetapi tidak juga berkesempatan. Orang kata, sebaik-baik perancangan kita, baik lagi perancangan Allah kepada kita.

Sebenarnya pada tanggal 22 Disember yang lalu, aku sudah berada di Kota Kinabalu, pulang bercuti sebelum masuknya semester baru. Tapi, benarlah, perancangan Allah lebih indah. Perancangan dan aturan yang sangat indah. Takjub.

Entah bagaimana, aturan ini walaupun pada minit yang terakhir, tetapi tersusun. Sms murobbi kubaca; "Salam tini, perbaiki niat di sepanjang perjalanan nanti ya. Perjalanan ni semua Allah yang atur. Akak doakan semoga perjalanan ni dapat membawa pulang sesuatu yang bernilai untuk islam."

Aku tertegun. Jujur, sebelum memikirkan sedalam-dalamnya, masih ada sangsi. Masih ada ragu-ragu. Benarkah flight ke Malaysia semua harus dibatalkan? Benarkah aku layak untuk menyertai perjalanan (daurah) ke Jakarta ini? Setelah semuanya akur pada aturan-Nya, ya, tinggal 1 saja yang perlu aku tetapkan; Niat. Niatku ke sana.

"Akak doakan semoga perjalanan ni dapat membawa pulang sesuatu yang bernilai untuk islam."

Kubaca sms berkali-kali. Aku merasakan ianya satu amanah yang berat. Tetapi, ini juga sebenarnya adalah kemahuanku. Kerana sudah tidak sanggup merasa kelam berada di Medan. Kurasakan tarbiyah pelajar-pelajar Malaysia di Medan terlalu suram. Tidak ada peningkatan. Tarbiyah yang sangat mendatar dan tidak ada kemajuan.

Ada memang ada. Tapi kaku. Pegun. Tak bergerak. Tak dirasa. Dan daurah ini kuharap akan menjumpai sesuatu untuk menghidupkan lilin tarbiyah di Medan. Bukan hanya ada dan statik pada tempatnya. Tetapi lilin yang bergerak, yang menyalakan setiap sudut kegelapan.

Allahu Allah, betapa ibrah yang kudapat dari daurah ini begitu mengesankan. Betapa dakwah itu sememangnya seni kehidupan dan betapa dakwah itu adalah kehidupan seorang dai'e. Bukan hanya dibuktikan secara retorik pada mulut, pada tulisan dan di mana-mana. Tetapi benar-benar dakwah itu sebuah kehidupan.

Allahu Rabbi, sejenak aku berfikir, apakah aku ini sebenarnya 'orang baru' yang merasai tarbiyah? Ya, itulah yang kurasakan setelah mengakhiri daurah ini. Dakwah ini juga memerlukan strategi, seperti yang dilaksanakan oleh Hasan al-Banna saat berseorang memikirkan strategi dakwahnya pada ummah yang dipeluki kegelapan.

Betapa Rasulullah juga memikirkan strategi saat berseorangan untuk menyebarkan dakwah "Laailaa ha illallah" untuk sampai kepada ustaziatul alam walaupun peringkat itu dicapai selepas kewafatannya.

Allah, betapa dakwah dan tarbiyah memerlukan kesabaran paling tinggi. Pengorbanan yang sangat besar. Kerana Allah tidak bertanya sebanyak mana hasil yang kita kerjakan. Tetapi apakah kita bekerja atau tidak. Apakah kita bergerak atau tidak.

Allahumma, betapa dakwah dan tarbiyah tidak memerlukan orang yang tergesa-gesa untuk mengharapkan hasil dakwahnya. Betapa dakwah dan tarbiyah tidak memerlukan orang yang tamak, pentingkan diri dan selalu berkeluh kesah.

Aku teringatkan seorang murobbi yang berkongsi pentarbiyahan dirinya, ini kata-kata yang sangat menghantui diriku di antara slot dalam daurah itu;

"Dakwah boleh ditujukan pada sesiapa pun di dunia ini, tetapi tarbiyah hanya ditujukan pada hati-hati yang dibuka untuk merasainya."

Subhanallah. Betapa indahnya kata-kata ini dan betapa dahsyatnya penangan kebenaran ini.

Dakwah dan tarbiyah itu berbeza. Dan itulah perbezaannya. Tarbiyah bukan paksaan. Tarbiyah hanya bisa dirasai oleh orang-orang yang telah membuka hati untuk menerima dan merasakannya. Bilamana hati terbuka untuk merasai tarbiyah, ia akan merasa berada di dunia yang lain.

Dunia yang bertemu dan berpisah sesama saudaranya kerana Allah. Dunia yang dia akan memulakan bicara tanpa menunggu orang yang memulakan. Dunia yang cermin pada akhirat dan tidak keduniaan. Diri yang sentiasa sensitif terhadap dosa dan saling berkejaran untuk kebaikan. Diri yang tidak pernah gentar akan caci maki manusia terhadapnya. Kehidupan yang sentiasa tenang dan jarang berkeluh kesah akan nasib diri yang menimpanya.

Kerana, ruhiyyahnya tinggi. Ruhiyyah diri yang menyelamatkan dari benci, hasad, mengeluh, marah; dan inilah yang terlahir dari sebuah TARBIYAH.

Pertemuan dari pelbagai negara; sahabat yang belajar di Indonesia, Malaysia, Auckland, Australia dan sebagainya; tanpa mengenali antara satu dengan yang lain, tapi bila bertentangan mata, lantas berjabat dan berpeluk erat seolah-olah telah kenal lama. Padahal itulah pertemuan pertama dalam hidupnya. Bagaimana bisa seerat itu pelukannya?

Perbualan yang menjadi utama antara kedua-duanya adalah bukan tentang dari mana belajar, scholarship, silibus pembelajaran, dan tentang negara yang didudukinya; yang mungkin akan menyebabkan timbul riak di hati tetapi adalah "bila merasai tarbiyah? bagaimana dengan tarbiyah?" subhanallah. Dan inilah yang menjadikan semuanya adalah sama. Satu.

Dan semua ini adalah berasal dari satu; TARBIYAH.

:)

Satu lagi kata-kata yang menyoalku tanpa jawapan, tetapi terus-menerus persoalan ini diajukan pada jiwa, benak dan diriku;

"Sudahkah kamu cukup serius dalam tarbiyah?"

Gulp. Soalan maut, menyentuh jiwa, sendi, masuk ke dalam tulang-tulang yang selama ini bekerja untuk-Nya. Benarkah?

Mungkin, cukup sekadar ini saja yang mampu aku coretkan. Insya Allah, mahu semakin serius untuk menulis dan berdakwah. Doakan.


Bogor Adventure Resort, Bogor.

Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

~ Sebiru Hari Ini, EdCoustic


Wardatul Shaukah,
Kota Kinabalu, Sabah.