Thursday, December 31, 2009

Saya kembali.

Assalamualaikum.

Balik saja dari Medan pada 23 Disember yang lalu, saya masih berlegar-legar di sekitar Ampang, Puchong, kemudian ke Temerloh, Pahang untuk menghadiri perkahwinan kakak saya. Barakah untuk kalian berdua - kakak saya dengan suaminya, Abang Saiful.

Alhamdulillah, separuh dari agama mereka sudah pun terlaksana. Sebuah masjid telah terbina.

Pernikahan - ianya adalah sebuah ibadah yang menjadikan dosa menuju pahala, menjadikan haram menjadi barakah, dan akhirnya menuju ke syurga dengan ikatan sebuah pernikahan yang diredhai-Nya. Betapa indahnya pacaran setelah pernikahan. Aiseh, mentang-mentanglah baru saja selesai membaca buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, banyak pula celoteh pasal pernikahan. Heh.

Lain benar rasanya perasaan tika adik-beradik kita sudah pun berkahwin. Lebih-lebih lagi kalau semua yang berada di atas kita sudah berkahwin - ya, saya adalah dalam situasi itu sekarang. Kalau kamu berada sama dalam situasi saya, pasti kita punya perasaan yang sama. Benar. Perasaan yang aneh. Tak perlu kot saya perjelaskan secara terperinci perasaan itu sebagaimana. Tahu-tahulah sendiri.

29 Disember yang lalu, saya sudah pun selamat berada di Kota Kinabalu. Oh, betapa indahnya saat-saat seperti ini. Semenjak belajar di Medan, inilah perasaan yang semakin saya nantikan. Inilah situasi yang semakin saya dambakan. Waktu terluang bersama keluarga, saudara-mara, kawan-kawan, membaca buku, dan merayau di sekitar rumah. Heh. Sungguh indah. Rumahku syurgaku...

Sekarang ini sebenarnya saya baru saja balik dari kampung bapa - Beaufort. Bertemu dengan datuk, nenek, saudara-mara yang saya rasa agak lama juga tak berjumpa. Saya sendiri tak pasti sudah berapa lama, tapi rasanya tak adalah lama sangat. Seperti biasa, saya akan bertemu dengan golongan kanak-kanak comel dan ceria - adik-adik sepupu, juga anak-anak buah. Saya baru perasan saya mempunyai sangat banyak anak buah (anak kepada sepupu-sepupu saya).

Saya masih ingat budak-budak itu kali terakhir saya berjumpa dengan mereka, mereka sangat kecil. Terkejut saya melihat mereka. Aik? Cepatnya besar? Macamlah lama sangat saya tak balik kampung. Saya pun dengan terkejutnya berkata;

"Apasal korang tiba-tiba besar ni?"

Haha. Tiba-tiba saja besar. Padahal dulu kecil-kecil. Ada pula adik sepupu saya yang sudah darjah 6, siap dapat 5A lagi dalam UPSR. Baru saya tahu dia dapat 5A tadi. Haha. Buka sekolah ni, dia sudah pun memasuki Tingkatan 1. Pergh. Sungguh tak disangka. Sekejap benar masa itu berlalu. Tak perasan sungguh saya.

Inilah yang seronoknya kalau balik ke kampung. Semua perubahan fizik saudara-mara kita tanpa disangka-sangka kita ketahui. Kakak sepupu saya sudah pun mempunyai 6 orang anak. Terakhir saya bertemu dan mendengar khabarnya, anak dia baru 3. Huhu.

Dengan kehadiran kanak-kanak comel dan riang di kampung, sungguh tidak bosan. Saya melihat mereka bermain anak patung, berlakon jadi mak, bapa, anak. Berebut-rebut mainan, kemudian menangis. Saya suka tengok budak kecil menangis. Dia menangis, saya akan ketawa. Haha.

Banyak sungguh karenah kanak-kanak. Sangat mententeramkan jiwa. Orang-orang tua bersembang, saya tak sertai mereka. Sebaliknya, saya sertai bersama budak-budak. Bukan menganggu mereka yang sedan bermain. Tetapi memerhati. Budak-budak kecil kalau bercerita comel kan? Saya hanya tergelak sendiri-sendiri. Sudahnya adik-adik sepupu dan anak-anak buah saya bijak-bijak belaka. Banyak tanya betul. Nakal-nakal pula tu. Geramnya saya. Terlampau comel. Ee geram.

Oklah, saya rasa saya perlu berehat. Nanti kalau membebel, tak habis-habis. Nanti saya sambung lagi (ceh, macamlah ada pembaca setia).

Ini foto-foto yang sempat ditangkap. Adik saya sudah beli DSLR baru - benda yang saya teringin mahu beli satu hari nanti. Habis saya kerjakan itu DSLR. Tak tahu kenapa, semakin berminat dengan fotografi pula *eh, semua pun kau minat*


IMG_1269 copy


IMG_1287

kawin

walk

IMG_1286

_MG_5399

_MG_5312

Semoga berbahagia buat Kak Ieka dan Abang Saiful.

Capek deh.

Wassalam.

Friday, December 18, 2009

1431: Semoga Semakin Dewasa



Hari ini, 1 Muharam 1431 Hijriah. Bermakna sudah 21 kali saya merasai tahun baru.

Apa azam kamu?

Mesti ramai yang sedang pasang azam tahun baru kan? Biasalah, setiap tahun pasti akan ada azam baru. Tapi, azam itu cuma disebut pada tanggal pertama dalam tahun baru. Setelah itu, ia akan ditiup angin, melayah entah ke mana.

Begitulah setiap tahun. Ulang, ulang dan ulang.

Entah berapa banyak sudah azam yang kita lepaskan dari genggaman tangan ini? Di manakah ia? Yang pada mulanya kita cipta dan genggam dalam sekepal tangan, kemudian begitu mudah untuk dilepaskan? Ia hanya seperti angan-angan seorang pemimpikah? Mimpi yang panjang, tidak berkesudahan?

Kalau begitu, sampai bila kita harus bangun dari mimpi ini? Sampai bila harus kita bangkit? Sampai bila hidup dalam angan-angan? Merealisasikan mimpi menjadi kenyataan? Bila agaknya kita harus bersemuka dengan dunia sebenar?

Kalau tahun lalu, kita hidup dalam kegelapan. Tahun ini, marilah kita memasang lilin untuk menerangi hidup kita yang terlalu kelam. Kemudian, pasangkanlah pula lampu agar lebih jelas dan mampu untuk kita melihat setiap sudut kamar hidup kita ini. Biar memudahkan perjalanan kita ke sana ke mari. Lalu, janganlah tunggu hari esok sedang diri kita adalah kosong. Jangan tunggu esok, baru kita lakukan azam. Tetapi, hari ini.

Ya, hari ini mesti sudah menguasai dunia.

Tidak perlu tunggu esok. Kerana esok itu masih mimpi.

Realiti adalah hari ini.

Hentikan semuanya - angan-angan kosong yang tak berkesudahan.

Kalau semalam, kita lebih banyak berbicara tentang diri sendiri, kita lebih banyak berbicara tentang hati dan perasaan. Kita lebih melayankan emosi hari ini, sedangkan esok masih ada. Kita tertekan hari ini, lalu terbawa-bawa sehingga esok. Kita berada di lingkungan kita saja.

Hentikan hidup bersendiri. Cubalah untuk keluar, bersemuka dengan dunia.

Kalau kita hidup lalu hanya memikirkan diri sendiri, kita hanya berada dalam situasi kita, ibarat berada dalam penjara. Merasa tekanan dalam hidup, melayan emosi tak sudah-sudah, berbicara hanya soal hati dan perasaan.

Maka, sampai bila-bila masalah kamu tak pernah terselesaikan.

Cubalah pandang seluruh dunia. Cubalah sekali-sekala memikirkan masalah dunia. Masalah negara. Apa sudah jadi dengan dunia ini?

Pernah terfikirkah?

Baca ini, ini juga. Di mana hati kita untuk merasainya?

"Kekejaman dan diskriminasi yang dilakukan oleh rejim pemerintahan China terus berlanjut, setelah beberapa waktu kemarin banyak warga Muslim etnis Uighur yang tewas akibat bentrokan dengan etnis Han, pemerintah juga melakukan pelarangan bagi warga etnis Muslim Uighur untuk sholat di dalam masjid sampai batas waktu yang tidak ditentukan." - dipetik di sini.


Cubalah lihat peta ini. Di mana Palestin? Apa nasib saudara kita di sana? Mereka bukan saudara kitakah?

Di mana hati kita untuk merasainya?

Lihatlah pada dunia ini. Jangan sempitkan fikiran hanya pada hati dan perasaan di dalam lingkungan saja. Tapi, lihat pada dunia. Rasailah di luar lingkungan. Bagaimana kondisi dunia? Apa kita tahu dunia sedang sakit sekarang? Apa kita merasa dunia semakin lumpuh? Luka?

Benar, dunia sekarang benar-benar dalam keadaan lumpuh. Dan kita bertambah menjadikan ia luka, berdarah.

Sekali-sekala, marilah keluarkan otak dan mata untuk melihat keadaan dunia. Nescaya masalah dalam lingkungan kita itu ibarat sekecil semut yang begitu mudah ditutup oleh besarnya masalah dunia ini.

Dari Abu Dzar Al-Ghiffari, Rasulullah SAW bersabda;

"Barangsiapa bangun pagi hari dan hanya perhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin yang lain, maka mereka tidak termasuk golonganku."
(
Hadis Riwayat Thabrani)

Azam tahun kali ini, harap lebih banyak menggunakan otak dan lebih merehatkan hati dari perkara yang sia-sia. Hati itu terlalu manja, jadi janganlah manjakan lagi. Sedang otak, kalau kurang dibasuh, akan menjadi bertambah kering, lusuh dan akan berkulat.

Harap lebih banyak memikirkan masalah dunia, berbanding memikirkan masalah sendiri yang tak pernah berkesudahan itu.

Harap lebih matang dan kurangkan sifat kebudak-budakan.

Harap lebih serius menjadi abdi-Nya.

Kalau tahun lalu adalah tahun kita jatuh dan gagal, tahun ini adalah tahun untuk tebus dan balas dendam.

Insya Allah.

Rencanaku adalah untuk menyesuaikan dengan rencana-Nya
sedang rencana-Nya adalah tetap menjadi milikku.

Takdir bukanlah aku yang memilihnya,
tetapi takdirlah yang memilihku.

Tuhan,
tiada daya hamba,
melainkan ihsan dari-Mu.

~Wardatul Shaukah, 9.10 pm, Medan.

Nota: Sebagai seorang hamba-Nya, diri ini juga mempunyai terlalu banyak azam dan impian, harapnya akan menjadi orang yang lebih sabar, kerana sabar itu indah.

Tuesday, December 15, 2009

Kemaskini Blog Wardatul Shaukah

Assalamualaikum.

Lama saya tidak menulis sesuatu di sini. Berikutan dengan final exam yang baru saja saya hadapi. Akhir-akhir ini juga, saya rasa ada sesuatu yang boleh dideskripsi dalam diri saya, iaitu MALAS. Inilah keburukan saya. Saya agak tidak konsisten dalam menulis. Mungkin kerana itu saya 'tidak diizinkan' atau masih tidak layak untuk menyertai MPR 2009.

Lupakan MPR.

Titik.

Saya sudah pun membuang Cbox dan pautan-pautan sahabat dari rumah ini. Maafkan saya. Mungkin saya perlu menjelaskan beberapa alasan mengapa saya membuangnya.

Pertama,

Saya merasakan ruang komen pada kotak kecil (Cbox) agak kurang manfaatnya untuk diletakkan dalam rumah ini. Kerana ianya lebih banyak diungkapkan tanda seseorang menziarah di rumah kita. Atau juga, kita menziarahi rumah seseorang kerana ingin rumah kita diziarah kembali. Entah kenapa, saya merasakan ianya tidak begitu penting. Saya lebih suka pengunjung yang lebih banyak membaca dan melontarkan idea untuk berkongsi pendapatnya. Tidak kiralah yang bersetuju atau kurang bersetuju dengan tulisan-tulisan saya. Sebab ianya membuatkan otak saya lebih banyak bergerak.

Ianya kerana setiap blog yang saya kunjungi, saya akan membaca. Saya sebenarnya kurang gemar membaca blog yang hanya copy dan paste dari tulisan-tulisan orang lain. Saya suka tulisan yang mereka cipta sendiri. Tidak kiralah tulisan macam mana pun. Saya akan membaca dan kadang-kadang saya mampu untuk menilai cara dan sikap seseorang melalui penulisannya. Heh. Cuma kadang-kadang, saya tidak memberikan komen sebab tidak tahu mahu komen apa.

Tapi, sahabat-sahabat yang begitu banyak widget di blog mereka, saya juga kurang gemar untuk berkunjung kerana akan membuatkan laptop saya menjadi lambat. Nasihat saya, buanglah widget yang terlalu banyak seperti meletakkan video begitu banyak di dalam blog, ataupun iklan-iklan yang tidak penting dan hanya membuatkan blog anda menjadi semak. Keinginan saya untuk berkunjung semakin terbantut. Oh maaf tapi hakikatnya sebegitu.

Blog yang saya suka baca sebenarnya saya lebih gemar untuk membaca secara senyap-senyap. Pokoknya, saya lebih gemar untuk membaca tanpa memberikan sepatah kata. Jadi, buat sahabat-sahabat, saya tetap berkunjung ke blog kalian. Meski jarang memberikan komentar, saya tetap akan membaca.

Kedua,

Saya mungkin akan menjadi lebih kedekut dengan membuang semua pautan sahabat-sahabat saya di sini. Sebabnya, saya mahu padatkan rumah saya ini. Saya tidak tahu mengapa saya merasakan rumah saya sangat semak-samun, lebih lagi dengan pautan yang bertimbun-timbun.

Mulanya ingin memaut pautan blog sahabat-sahabat dalam jumlah yang sedikit. Tapi, sahabat sesama blogger semakin ramai. Takut sekiranya ada yang tidak saya pautkan. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk lebih adil. Tidak memaut pada mana-mana pautan blog mahu pun laman web.

Maafkan saya. Sahabat-sahabat yang meletakkan pautan blog Wardatul Shaukah ini di blog kalian, teruskanlah memaut ya. Jangan dibuang pula. Kalau buang pun tak ada salahnya. Tapi, janganlah. Tsk.

Bukan mengambil jalan untuk menjadikan diri sebagai 'blogger yang pasif' cuma mahu melihat rumah ini tidak berserabut. Pautan blog anda ada dalam simpanan saya. Dan saya pastinya akan selalu berkunjung ke blog yang juga selalu berkunjung ke rumah ini.

Ini saya terima dari seseorang yang tidak saya kenali melalui email beberapa bulan yang lalu;

Assalamualaikum Wr Wb.

Saya ambil naskah dari blog anda, mohon maaf dan mohon di ikhlaskan.
Untuk saya cetak dan sebarkan, tanpa nama anda tercantum. Karena memang tak ada satupun nama penulis yang tercantum. Insya Allah dibaca oleh 50.000 lebih saudara kita. Moga jadi saksi kebaikan diakherat.

Insya Allah lain waktu silaturrohmi bisa dieratkan. Dan jika bersedia kami sangat mengharap andai setiap bulan bisa menyumbangkan satu naskah. Terimakasih jika berkenan balas email ini.

Wassalamualaikum. Wr Wb.

Walaupun agak kecewa disebabkan tidak dapat menyertai MPR, email ini sedikit-sebanyak menguatkan saya. Oh, maafkan saya kalau semakin tidak konsisten dalam menulis. Saya berharap agar diberi kelapangan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya di samping menuntut ilmu perubatan. Saya berharap agar mampu untuk menulis sebanyak-banyaknya di sini. Bukan untuk diri saya semata, tetapi untuk kamu, kamu dan semua.

Semoga Allah permudahkan saya. Saya menulis untuk saya, kamu, kita dan semua. Saya masih memerlukan kekuatan dengan jumlah yang banyak. Ya, kekuatan yang tidak mampu saya ungkapkan. Kadang-kadang iman saya semakin rapuh. Saya juga seorang manusia. Mengapa saya harus menulis? Kerana dengan itu, saya akan berusaha menuntut ilmu untuk disampaikan kepada semua.

Saya mahu menulis kerana ingin mencari ketenangan. Maafkan saya kerana saya tidak tahu bagaimana untuk mengungkapkan. Tapi saya tenang dan seolah-olah punya pengisian dengan menulis.

Saya mahu menulis. Tidak kiralah berapa jumlah yang membacanya. Meski mungkin cuma seorang dua saja yang membacanya, saya tetap akan menulis. Paling penting dan pastinya, saya akan tetap membaca tulisan-tulisan saya kerana ianya berupa kekuatan bagi saya.

Saya mahu menulis. Kerana dengan ini saya hampir menjumpai cinta. Ya, saya semakin mahu dirasuk cinta-Nya. Sukar menggambarkan bagaimana perasaan orang yang semakin hilang tanpa arah, dan rindu kian terubat dengan mengetik-ngetik sesuatu yang datangnya dari hati.

Saya mahu menulis kerana-Nya. Doakan saya.

Saudara kalian,
~Wardatul Shaukah.

Nota 1: Boleh selongkar kembali artikel-artikel yang pernah saya tulis sebelum ini. Telah tersedia pada ruang kanan rumah ini. Harap ada artikel yang bermanfaat.

Nota 2: Sebenarnya, saya telah follow banyak blog kesukaan saya secara diam-diam. Heh. Mungkin salah satunya adalah kamu :)