Wednesday, October 28, 2009

Masihkah ada ruang Cinta untukku?



Kala keberadaan di tengah garis sentral
pemisah antara benar dan batil
penghijab antara surut dan mundur.
Tekunku mencari taakul cinta
kupelajari makna tulus, setia dan pengorbanan
sehingga kepada-Mu aku sandarkan segala
namun aku sering membelakang-Mu dalam beberapa perkara
masihkah ada ruang cinta untukku?

Telah kupelajari untuk menyayangi
dan aku semakin damba pada kasih
tak keruan bila kutinggal posisi teleku atas sejadah usang
terasa sunyi jika perca-perca tasbih itu
sudah tidak terpacul dari bibir lagi
pun begitu, masih juga aku melanggar sumpah
kadang cinta tak setulus kata-kata
kadang tak setia, dan aku menduakan-Mu
masihkah ada ruang cinta untukku?

Waktu duka -aku cari
Waktu suka -aku sembunyi
sedang aku telahpun mematri janji ini untuk setia
tak kira suka atau duka, mengitariku
aku akan di sana, pada sisi-Mu
pun aku sudah berkali-kali mengunyah dusta,
masihkah ada ruang cinta untukku?

Entah bagaimana lagi aku harus membilang
tetes-tetes air mata ini saat menyalahkan-Mu
entah bagaimana lagi aku harus merenyuk
keluh kesal ini saat hampa akan takdir-Mu
dan entah untuk keberapa kali, aku menatapi bait itu,
prosa yang Kau lakarkan pada lembar al-Baqarah, 186;
“Maka, sesungguhnya Aku dekat..”, pun aku
masih menjadi aku – si pengkhianat cinta ini
tega menusuk benih hitam pada nurani kendiri, pincang segala
masihkah ada ruang cinta untukku?

Saat ini, pada sekujur tubuh lesu, roh yang lusuh
kurebahkan dahi ini untuk rela dikucup sehingga ampuh
oleh butir-butir debu yang bergelimpangan di atas sejadah rapuh
saatnya untuk aku tunduk, serendah debu yang lumpuh.
Kasih, masihkah ada ruang cinta untukku?

Wardatul Shaukah, 4.35 am, Medan.

Saturday, October 17, 2009

Semut II

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

Sewaktu menjalani proses mengulangkaji peperiksaan beberapa hari yang lalu, saya menjalani proses belajar ditemani oleh sahabat-sahabat terhebat saya, sang semut. Tahun kedua ini, saya sudah berpindah rumah. Rumah dulu tidak ada semut. Rumah yang sekarang, banyak sungguh semut. Saya sungguh gembira kerana punya teman baru yang banyak. Sekurang-kurangnya saya tidak merasa bosan belajar bersendirian :)

Seperti biasa, sewaktu belajar, saya selalu menyediakan segelas minuman untuk saya minum agar tidak ngantuk. Pada waktu itu juga, kebetulan saya sedang memakan gula-gula. Seingat saya, baru saja saya meletakkan gula-gula itu di atas meja, pun begitu cepat sekali dihurung oleh semut. Kemudian, saya dengan mulianya (kononlah) menyediakan sekeping tisu dan memecahkan beberapa bahagian gula-gula saya di atas tisu itu. Sudah lama tidak melakukan sebegini. Setelah sekian lama sibuk bekerja dengan dunia luar, akhirnya ada juga waktu terluang untuk melayani karenah semut-semut yang comel yang telah lama menetap di kamar sepi saya. Kasihan mereka, tidak terpeduli.

Oklah, saya malas mahu bercerita banyak. Ini dia teman-teman saya yang saya kagumi;


SATU


Babak 1: Gula-gula tersedia di atas tisu


Babak 2: Mendapat sambutan oleh bebarapa penduduk kampung


Babak 3: Ajak penduduk kampung ramai-ramai naa..


Babak 4: Ok, kenduri besar.


Babak 5: Seronok ea dapat makan banyak-banyak? :)

Babak 6: Balik dari exam, cuba lihat 2 ketul sebelah kiri, sudah habis kan? :)

DUA

Babak 1


Babak 2


Babak 3


Babak 4


Babak 5 (sudah habis, tisu pun sudah kering. hoyeah!)

Masih belum kenal dengan sang semut? Pada mulanya mereka mendapat makanan, mereka akan memanggil teman-teman mereka untuk makan bersama, sehingga semuanya akan dapat makan. Mereka tidak pentingkan diri sendiri, tidak kedekut. Mereka saling bekerjasama dalam melakukan setiap perkara. Dengan sifat teamwork yang mereka ada ini, akhirnya, gula yang agak besar itu akan habis kurang dari 24 jam. Atas semangat kesatupaduan yang unggul.

Semut begitu gagah dan matang. Berani. Comel. Macho. Cool. Mantap. Bersatupadu. Hebat. Semua ada pada semut. Kalau ada kesempatan, kamu lihat saja di atas lantai, kalau-kalau waktu itu ada deretan semut yang sedang berlari-lari, berpusu-pusu bekerja untuk hidup, lihatlah corak perjalanan mereka. Walaupun mereka berpusu-pusu, mereka tetap akan saling bersapa antara satu dengan yang lain untuk saling bertemu di pertengahan jalan. Begitu utuh sifat silaturrahim mereka. Saya kagum.

Mengingati akan kisah Nabi Sulaiman dengan sang semut di dalam surah Semut pada ayat 18 dan 19;

18. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, "Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tenteranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

19. Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yan Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.

(Surah An-Naml,27: 18-19)


Ah! Andai saja saya berada di tempat Sulaiman, sudah tentu bukan hanya tersenyum dan tertawa dengan karenah semut, agak-agak perkara yang ingin saya tanyakan kepada semut terlalu banyak.

Wahai Sang Semut;

-bagaimana kalian bisa bersatupadu tanpa ada sebarang perselisihan?
-bagaimana kalian bisa menjernihkan sifat silaturrahim tanpa sebarang kompromi dan provokasi?
-bagaimana kalian bisa setia berada dalam jemaah tanpa kenal erti perih payah?
-apakah pendapat kalian dengan manusia?

Oh sang semut, aku malu padamu.

-Wardatul Shaukah-

Nota 1: Saya menaip ini sambil hati berbunga-bunga. Senyum.... :)

Nota 2
: Setiap kali bangun pagi, harus berfikir dengan benda-benda yang berat. Jangan tinggalkan otak atas katil :)

Monday, October 5, 2009

Episod Cinta Luka Uyghur (tersiar di Mingguan Malaysia)



Episod Cinta Luka Uyghur

(Segeluk doa buat saudaraku di China)

Mereka adalah kedewasaan
menahan keluk mata dari katup
menyembunyi guruh gemuruh di dada
barangkali sekawan burung datang
melempar segulung ihsan
di atas tanah luka itu.

Mereka adalah kecintaan
mengeja bait-bait cinta di cakerawala
barangkali ada sayap-sayap cinta
mengusung racik-racik bahagia, dikebumi
pidana berbatu nisankan kudeta.

Mereka bilang;
Makna dewasa itu dusta,
makna cinta itu nista.
Kamu tidak mampu bayar darah-darah kami,
kamu tidak mampu ganti cebisan daging anak-anak kami.

Kami wajib menangis
kerana air mata ini untuk beritahu dunia
bahawa kami adalah bajingan, manusia jalang
yang tidak ubah seperti anjing
hanya layak diterajang, dilepas radang.
Mereka bilang agama kami pengganas
sedang mereka lebih ganas dari binatang!

Tuhan,
kami rela jadi kecoak sahaja
yang hanya tahu mencabuli najis-najis
biar mereka merasa jijik
dan kami tak pernah mahu peduli
sekali dipijak, terus kami mati.
Dengarkan,
episod cinta kami, betapa
kami adalah kepasrahan yang sebal
sedang memujuk-Mu.

Kartini Kassim,
USU, Medan
4 Syawal 1830H

(tersiar di Mingguan Malaysia pada 4 Oktober 2009)

Glosari:
*Uyghur: kaum etnik Uyghur Islam di China
*kecoak: lipas

Alhamdulillah. Puisi ini saya tulis sewaktu awal syawal yang lalu. Sedang bersendirian di rumah manakala teman-teman bergembira menyambut lebaran di Malaysia. Layan jiwang sorang-sorang. Tsk.

Puisi ini saya tulis sebagai rasa cinta dan kasih saya terhadap saudara-saudara seaqidah kita yang tertindas di China. Sewaktu kita berpuasa di dalam bulan Ramadan, mereka dilarang untuk berpuasa. Saya pernah terfikir, kalau saya diperlakukan begitu, bagaimanakah nasib saya? Dengan nikmat berada zon yang sangat selesa sekarang, saya masih terlalu malas untuk melakukan ibadah dengan bersungguh-sungguh. Kalaulah nikmat kita ditarik sekelip mata, bagaimanakah kita? Allahu Rabbi.. Mereka sungguh kasihan :(

Sekarang dengar-dengar ada juga konflik di Filipina. Marilah kita sama-sama doakan keselamatan mereka. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan semuanya dari Allah. Apakan daya kita untuk membantu mereka. Dan saya hanya mampu menulis. Oh, semoga Allah mencurahkan kasih-sayangNya kepada saudara-saudara kita yang tertindas.

Berikutan dengan gempa bumi, doakan kami di sini agar tidak berlaku apa-apa. Kita tiada daya. Kita tiada kuasa. Allah yang Maha Kuasa.

Wallahu 'alam.

(Belajarlah. Hesh!)