Tuesday, June 30, 2009

Where Is The Love?

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

Sedang saya menyelak beberapa helaian berita di dalam internet, saya baru terbaca kisah seorang warga Indonesia didera oleh majikannya di Malaysia. Sudah lama tidak mendengar berita-berita sebegini.

Sewaktu masih berada di Medan, saya dikejutkan dengan kisah Manohara. Saya sebenarnya tidak pernah menonton berita dan membaca surat khabar Indonesia. Waktu kisah Manohara pula yang 'famous' saya terlepas pandang. Saya tidak menahu apa. Dahsyat kan saya? Itupun setelah diberitahu oleh tema-teman Indonesia. Saya ditanya apakah benar Manohara didera oleh suaminya di Malaysia?

Saya blur. Keluarga saya tidak pula beritahu akan hal ini. Akhirnya, mereka pula yang menceritakan dari mula hingga akhir bersumberkan berita. Mereka tertawakan saya kerana tidak tahu apa-apa. Huhu. Lewat kes Manohara, saya juga tidak mengetahui kesahihan bahwa ia didera atau tidak. Ada yang mengatakan dia didera, ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah cerita fitnah dan sebagainya. Sudah, kes Manohara ditutup di sini. Saya tidak ingin kata apa-apa :)

Tetapi, dalam kisah Siti Hajar ini, saya sangat bersimpati. Pada pandangan saya yang jumud lagi jahil ini, pekerjaan di negara Indonesia sangatlah kurang. Kamu akan melihat begitu banyak yang duduk dan tidur di tepi jalan. Mereka berminat untuk datang bekerja ke Malaysia kerana pendapatan di Malaysia hanya sebagai pembantu rumah sama saja dengan seorang guru di Indonesia sana. Alangkah sedihnya kehidupan mereka.


MENGAPA BEGITU TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN?

Saya rasa hairan, mengapa begitu tiada bersifat manusia? Apakah mereka ini tidak punya rasa kasihan langsung? Baik Malaysia ataupun Indonesia, kita semua adalah serumpun. Malah kebanyakan masyarakat Malaysia berasal dari Indonesia. Kalau tidak, masakan kita menjumpai masyarakat Malaysia yang berbangsa banjar, jawa, bugis, minang dan sebagainya. Tetapi berwarganegara Malaysia.

Ada juga yang sudah 'mind setting' membenci dan menaruh dendam. Ya, biasalah. Semangat kenegaraan. Siapa-siapa sahaja orang Indonesia, dicemuh, didera. Sebab dendam itu tidak punah. Begitu juga sebaliknya. Jangan begitu saudara. Kita inikan sesama manusia. Yang kita pijak adalah tanah, yang memijak juga adalah tanah. Maka, apakah alasan kita untuk berlaku sombong sesama manusia? :)

Jika dalam situasi agama kita. Seorang muslim yang berbuat kesalahan. Maka, agama juga yang dipersalahkan. Sanggupkah kamu bila orang bukan beragama Islam berkata "Memang. Islam memang macam tu. Pengganas semuanya!" Begitukah?


Justeru, jangan menaruh dendam. Dendam itu adalah racun. Racun yang memusnahkan segalanya. Kalau kamu tiada perasaan kasih sayang, maka dia tidak layak mendapat kasih sayang. Itu kata siapakah?

Marilah kita berkasih sayang. Berkasih-kasihan. Kalau hati dipenuhi dendam, maka peratus penderitaan jiwa kamu akan meningkat. Serius. Jangan sekali-kali ingin berdendam dan mahu membalas dendam. Bahaya.

Where is the love, people?

Nota 1: Dunia ini semakin banyak karenah kan? Pasal politik yang tunggang-langgangnya lain lagi. Jauh dari istilah politik sunnah Nabi dan para sahabat. Innalillahi wa innailahi rojiun..

Nota 2: Kematian Micheal Jackson masih menghantui ramai. Kenyataan bahwa dia memeluk agama Islam ataupun tidak masih menjadi teka-teki. Hanya Allah saja yang mengetahui..

Nota 3: Saya sudah bertukar nombor hp. Harap maklum.

Saturday, June 27, 2009

Semusim Ukhwah Bertaut

Budak gemok yang kuat makan

Semusim Ukhwah Bertaut
(Dedikasi buat Najatul Taqirah sempena Hari Lahirnya yang ke-20 tahun. Terima kasih kerana selalu menemaniku tika senang dan susah)

Saat aku menjelajah ke dalam hidupmu, ukhti
kita bersahabat menuju ke kota iman
memegang lampu suluh untuk menyinari
kampung jahil yang gelap-gelita
kita semakin menyelami taakul hidup
damba sebenar tujuan dalam karenah nan ragam
hiruk-piruk yang berlegar di ruang mata arca kita.

Sudilah kiranya kauizinkan aku untuk memandu
untuk kita berjalan menyusup di celah sepi berliku
walau cuma berbenteng sekeping nurani iman yang kecil
dan kaubonceng mengikutiku bersama sekepil tawaduk
kita belajar mencipta suatu getar yang tulus
pada degup malam untuk bisa kita dengar semulus bait angin
di bawah lampu neon untuk bisa kita terdedah sinarnya benderang
agar bersama kita janji-janji pasti yang sudah lama kita imani.

Ukhtiku sayang,
mengertilah bahwa melankolik yang bermain dalam
kamus lembaran hidupmu sekadar fana
agar bisa kau selami secangkir tabah dalam jiwa abdi
dan agar kau mengerti
langit yang menangis bisa kau hayati
renik-renik cinta-Nya yang menyelimuti
gusar yang telah kaupeluk sekian lama.

Harapanku ukhti,
agar ukhwah ini tak pernah malap
seperti malapnya lampu sesudah dikocok.
Doaku ukhti,
agar kasih ini jernih
sejernih air embun yang menitis di kala fajar terbit
yang tidak dicarik oleh malam yang keras.


Sahabatmu, Teeny
27 Jun 2009,
Kota Kinabalu.


Nota: Selamat hari jadi buatmu. Semoga Allah berkati usiamu. Kau sudah tua! Maaflah kalau sajak ni tak sedap, puisi ini aku warnakan dengan warna merah sebab kau suka warna itu. Aku harap kau terima seadanya (-_-")

Friday, June 26, 2009

Jalan Cinta Para Pejuang (2)

Cita dan tujuan selalu ada jauh di depan
Ghairah dan hasrat membuatnya terasa dekat
Jikapun kemudian ia masih tampak gelap atau muram
Itu kerana mata yang kita pakai untuk melihatnya
terletak dalam hati
Apakah kau mendengar suaranya saat memohon
untuk tak dikotori?

Tapak Ketiga : Nurani

Yang perlu diukur adalah mata hati. Ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu di jalan cinta ini. Tak ada yang lebih jernih dari suara hati, ketika ia menegur tanpa suara. Teguran yang begitu halus, begitu bening, begitu dalam. Tak ada yang lebih jujur dari nurani. Nasihatnya begitu bening dan kita tak kuasa untuk menyangkal. Berbahagialah orang-orang yang seluruh waktunya dipenuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.

"Mintalah fatwa pada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula pada hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu."
(Hadis Riwayat Muslim)

Hati bicara tanpa kata, menjawab tanpa suara, tapi ia terasa. Dan Rasulullah menggambarkan bahwa hati adalah raja. Jika ia baik, baiklah semuanya. Jika ia rusak, maka rusaklah semuanya. Setiap kemaksiatan yang kita lakukan menjadi nokhtah dosa yang menghitamkan hati. Awalnya, nurani kita selalu mengirimkan tanda bahwa ia disakiti. Tetapi ketika hawa nafsu diperturutkan, dan maksiat terus dilakukan, diulang-ulang, nokhtah-nokhtah dosa merintih dan suaranya semakin lirih. Hingga satu ketika,
hati akan menjadi buta lalu mati.

Nurani menyelamatkan iman. Ingatkah kamu ketika Ka'b ibn Malik dipulau oleh Rasulullah dan para sahabat disebabkan dia tidak menyertai Perang Tabuk? Ka'b berkata; "Demi Allah, aku adalah salah seorang yang paling fasih lisannya dan paling pandai berdiplomasi. Jika aku kemukakan satu alasan, takkan ada yang bisa menyangkalnya. Rasullullah pun pasti akan memahaminya."


Ka'b - bertanya pada hati dan mendengar suara nuraninya; ia bukan sedang berurusan dengan manusia, tetapi Allah, yang mendengar setiap kata yang mengandungi dusta. Lantas dikutip fatwa nuraninya untuk berlaku jujur di hadapan Rasulullah. Sungguh, jalan cinta para pejuang adalah jalan di mana kita mendengarkan suara nurani. Bukan untuk mendayu-dayu dan melankolik, tetapi bersikap tepat pada suatu saat, sepenuh jiwa, sepenuh raga seperti para pejuang yang mulia. Di jalan cinta para pejuang, selalulah sucikan hati, bertanya padanya meski kau merasa sunyi, meski kau sendiri..

Tapak Keempat : Disiplin

Jadikan cintaku pada-Mu ya Allah
Berhenti di titik ketaatan
Meloncati rasa suka dan tak suka

Kerana aku tahu,
mentaatiMu dalam hal yang tak kusukai
adalah kepayahan, perjuangan dan gelimang pahala
kerana seringkali ketidaksukaanku
hanyalah bagian dari ketidaktahuanku.

Dalam disiplin, yang perlu diukur adalah ketaatan. Ketika kau bersujud di mihrab taat, kau takkan dibimbangi oleh kemampuan. Seluruh cinta sudah diserahkan dihujung taat, dan semua itu menjadi mampu kerana kau mengerjakannya atas ketaatan. Biarpun sulit, taat adalah penghidup cintamu di kala masih merasa ketidakyakinan terhadap diri sendiri. Alangkah betapa indahnya menelusuri jalan cinta para pejuang yang tulus!

Untuk mencipta ketaatan, harus mengetuk pintu paksa. Paksaan? Adakah ia menjadi salah satu tabiat dari jalan cinta para pejuang? Tentu saja bukan, kecuali dalam tanda kutip. Tatkala dikutip itulah paksaan menjadi sebuah pahlawan, untuk bertempur melawan ego dan nafsu diri. Pada awalnya, memang sukar. Payah. Lelah. Namun, lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Lalu terasa nikmat. Di saat itu, ia kembali menghayati bahwa di antara kepayahan dan kenikmatan, terciptanya sebuah keindahan.

Dan yang paling penting adalah, "Show it! Don't tell it!". Tunjukkan saja, jangan ceritakan! Cerita itu terlalu kecil dibandingkan dengan besarnya sebuah tindakan.

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian katakan apa yang tidak kalian lakukan? Amat besar murka di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan." (As-Shaff[61]:2-3)

Di jalan cinta para pejuang memang diperlukan kata. Tapi tak cukup dengan kata. Manusialah yang memberinya makna. Dengan amal. Dengan tindakan. Inilah jalan cinta para pejuang.. Lalu, marilah kita contohi kesetiaan para sahabat kepada Allah dan syariat-syariatnya. Kita lemah dan tak berdaya, tetapi Allah yang menguatkan kita. Allah bersama kita. Kita ada Allah. Yakin hanya pada Allah. Setia hanya pada Allah. Cinta hanya pada Allah.

Satu saat, kuminta nasihat pada seorang sahabat
aku merasa tak layak akh, katanya

aku tersenyum dan berkata

jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan
sungguh di dunia ini tak ada lagi

orang yang layak memberi nasihat


memang merupakan kesalahan

jika kita terus saja saling menasihati
tapi dalam diri tak ada hasrat untuk berbenah
dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan hari


tapi adalah kesalahan juga

jika dalam ukhuwah tak ada saling menasihati

hanya kerna kita berselimut baik sangka kepada saudara


dan adalah kesalahan terbesar

jika kita enggan saling menasihati

hanya agar kita sendiri
tetap
merasa nyaman berkawan kesalahan

Subhallah, di jalan cinta para pejuang

nasihat adalah ketulusan

kawan sejati bagi nurani

menjaga cinta dalam redha-Nya


- Salim A. Fillah -

Apakah kamu tidak merasakan bahawa dakwah itu sangat indah? :)

Semoga kita bisa menghayati dengan tapak-tapak cinta para pejuang; visi, ghairah, nurani dan disiplin.

Nota: Saya harap saudari Nabilah Othman berpuas hati dengan perkongsian saya berkenaan buku "Jalan Cinta Para Pejuang" yang telahpun saya bedah sepuas-puasnya sehingga menghasilkan 2 entry :) Semoga Allah pimpin kita ke jalan yang lurus..

Thursday, June 25, 2009

Jalan Cinta Para Pejuang (1)

(Atas permintaan saudari Nabilah Othman di dalam comment box saya. Penulis cuba menulis berpandukan fokus utama dalam buku karya Salim A.Fillah ini. Tulisan ini adalah berkesinambungan dari entry saya terdahulu menerusi buku tersebut dan banyak ditokok tambah oleh saya sendiri. Semoga terhibur)


Jalan Cinta Para pejuang: "Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga" - Salim A. Fillah

Tapak Pertama: Visi

"Visi jauh lebih penting dari pengetahuan" - Albert Einstein.

Mengapa? Kerana pengetahuan bersifat lampau, sudah berlalu dan terbatas. Sedangkan visi adalah masa depan yang tak terbatas. Visi lebih besar daripada sejarah, lebih besar daripada beban kita, lebih besar dari luka nestapa emosi kita di masa lampau.

Visi adalah matlamat penting bagi kita dalam menelusuri jalan cinta para pejuang. Dengan visi, kita terus fokus pada matlamat, sepertimana cahaya lampu yang bersifat lurus, jika disuluh di kawasan yang hitam pekat, maka kita hanya berjalan menerusi cahaya yang lurus itu tanpa mengendahkan sedikitpun dengan suasana yang tidak diterangi oleh cahaya. Kerana kita sudah nampak jalan kita.

Dalam jalan cinta para pejuang, cuba belajar akan dua ayat yang selalu kita dengar.

1) "Sulit, tapi boleh." : Mereka yang selalu mengalami kesulitan akan bisa mengatasi kesulitan. Ia menggambarkan suatu tekad untuk mengerahkan semua potensi demi mengatasi kesulitan dan halangan. Ia percaya akan kata-kata ini untuk menjadikan dia lebih tegar dikelilingi kesulitan;

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya kesulitan itu ada kemudahan.Maka apabila kamu telah selesau dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap."(Al-Insyirah:5-8)

2) "Boleh, tapi sulit." : Mereka ini terlalu memperbesar-besarkan kesulitan sehingga ia tak jadi bertindak. Terlalu dihantui oleh ketakutan, terlalu fokuskan kesulitan yang menghantui dirinya.

Lalu alangkah sedihnya jika cinta tak punya visi. Kecil. Kerdil. Tak menjangkau ufuk-ufuk tinggi. Ia hanya menjadi kenangan-kenangan lampau. Kalaupun ada hari ini, ia hanya menjadi rindu semalam, cemburu sepagi, dan tengkar sesiang. Tak lebih. Tak bermasa depan.

"Masa depan milik Islam". Di jalan cinta para pejuang, kalimat itu seperti suluh nan jauh. Sungguh, hanya dengan visi yang besar, tinggi, dan bening kita bisa menyuluhnya. Maka pandanglah ke hujung perjalanan saja. Dan, mari kita berangkat menelusuri jalan cinta para pejuang.. :)

Mungkin, bisa dimasukkan juga seperti yang sudah saya tulis berkenaan dengan rencana, takdir dan cinta. Di jalan cinta pejuang, berkumandang kalimat 'Ali ibn Abi Thalib, "Kebenaran yang tak terencana, akan dikalahkan oleh kebatilan yang tertata".

Ya akhi wa ukhti, sekelam apapun langit semalam, hidup kita untuk esok, jodoh kita esok, rezki kita esok; semuanya boleh direncanakan. Dan di jalan cinta para pejuang, akan kita ganti kata 'boleh' dengan kata 'harus' atau 'wajib'.

Tapak Kedua: Ghairah

Sekiranya kita ingin memiliki sesuatu, mungkin tak terlintas di minda bahwa kita ingin memilikinya. Kita ghairah ingin memilikinya. Namun, hakikat di jalan cinta para pejuang, cinta tak seharusnya memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini.

Dan di antara semua ghairah dalam cinta, cemburu adalah sosok yang paling unik. Sepertimana Sa'ad ibn 'Ubadah berkata: "Kalau aku melihat seorang lelaki bersama isteriku, tentu akan kupukul dengan pedang hingga ia tak bisa mengeluarkan suara lagi!"

Rasulullah berkata; "Apakah kalian hairan terhadap perkataan Sa'ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripada dia, dan Allah lebih cemburu daripadaku!" (Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah betapa Rasulullah juga cemburu. Tuhan juga cemburu andai kita menduakannya. Marilah kita berterima kasih dengan cemburu, biarpun cemburu itu adalah sekadar letupan ghairah di jalan cinta para pejuang..

"Satu malam yang dingin berjaga dalam perang lebih aku cintai daripada bermalam pertama dengan gadis perawan." - Khalid Al-Walid

Di jalan cinta para pejuang, bahkan hal kecil seperti air mata yang bening, bisa menjadi sebuah ghairah yang menggerakkan manusia mengubah dunia..

Kalau cinta sudah terurai jadi laku,
cinta itu sempurna seperti pohon iman;
akarnya terhunjam dalam hati,
batangnya tegak dalam kata,
buahnya menjumbai dalam laku.

- M. Anis Matta -

bersambung...

Nota: Sebenarnya, banyak yang menyerap ke dalam diri saya setelah membaca buku ini. Hampir setiap kata begitu menghantui saya. Tapi, saya tak tulis terlalu banyak. Cukup ini saja. Saya akan sambung lagi seterusnya fokus utama dalam buku kegemaran saya ini. Terima kasih kerana membaca.

Tuesday, June 23, 2009

Qasidah Burdah dan Seorang Nik Nur Madihah

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

Qasidah ini boleh download di sini.


Kerinduan Kepada Baginda dan Negeri Madinah Al Munawwarah

Aaaaa… aaaaaa…..aaaaa…..aaaaaa
Aa aa aa aaaaaaa... a a a a.....aaaaaa
Maula ya solli wasalim da iman abada ‘ala habibika khairil khalqi kulli hi mi
Maula ya solli wasalim da iman abada ‘ala habibika khairil khalqi kulli hi mi

Apakah kerana teringat jiran yang tinggal di "Dzi Salam(1)” sehingga engkau cucurkan airmata bercampur darah yang mengalir dari matamu

Ataukah kerana tiupan angin kencang yang berhembus dari arah “Kazhimah(2)” atau kerana sinar kilat yang membelah kegelapan dari “Gunung Idham(3)”

Kenapakah kedua matamu tetap mencucurkan airmata, walaupun telah engkau katakan: “Tahanlah….. jangan menangis”. Dan mengapa hatimu tetap resah dan gelisah, padahal telah engkau katakan padanya: “Tenanglah……..jangan gelisah”

Apakah orang yang dimabuk cinta menyangka, bahawa cinta kasih dapat disembunyikan di sebalik cucuran air mata dan kegelisahan jiwa?

Kalaulah bukan kerana dalamnya cinta, tidaklah akan bercucuran air mata di atas puing-puing rumah kekasih dan fikiranpun selalu melayang sehingga tak dapat tidur kerana mengingati pohon “Al Baan”(4) dan “Gunung Al Alam”(5)

Bagaimana hendak disembunyikan lagi suatu cinta yang telah dibuktikan oleh saksi yang adil, berupa cucuran air mata dan badan yang menderita menanggung rindu

Rindumu sudah tak dapat disembunyikan lagi, bila telah terukir di kedua pipimu kesan merah cucuran air mata laksana ranting “Anam”(6) yang bercabang dua dan bila tubuhmu kurus kerana gelisah

Ya, dikeheningan malam khayalanku jauh melayang kepada kekasih, sehingga nak tidurpun susah. Begitulah sebenarnya cinta apabila telah bertapak di dalam hati, ia akan menukarkan segala kelazatan menjadi derita.

Wahai orang yang mencelaku, tentang cintaku. Sepatutnya orang yang dimabuk cinta ini dimaafkan saja atas keterlanjurannya. Andainya engkau sedar tentang derita orang yang bercinta sudah pasti engkau tidak akan mencelanya.

Sebenarnya keadaanku jelas di hadapanmu dan sudah tiada suatu rahsiapun yang masih tersembunyi dari mata orang-orang yang mencelaku, sebagaimana derita cintaku tiada pernah kurang

Engkau bersungguh-sungguh memberikan nasihat kepadaku, namun aku masih tidak mahu mendengarnya. Begitulah agaknya orang yang dimabuk cinta sudah menjadi tuli dari celaan.

Maula ya solli wasalim da iman abada ‘ala habibika khairil khalqi kulli hi mi
Maula ya solli wasalim da iman abada ‘ala habibika khairil khalqi kulli hi mi

(1), (2), (3) nama tempat di Madinah al munawwarah
(4) nama pohon yg berbau wangi, banyak terdapat di Madinah
(5) Nama Gunung di Madinah
(6) Nama pohon yang mempunyai banyak cabang dan kemerah-merahan


Sebenarnya, qasidah burdah ini adalah rangkap terawal sebelum rangkap yang pernah saya postkan dahulu. Jadi, sesiapa yang ada copy lirik qasidah yang saya postkan hari tu, ini adalah rangkap terawal. Maaf, saya post tak ikut urutan. Sebab rangkap yang telah saya post hari itu lebih saya gemar kata-katanya berbanding yang ini. Tapi, ini juga sedap diamati dan dihayati. Semoga terhibur :)

Semalam, pertama kali saya keluar ke bandar setelah duduk terpiruk dalam rumah. Maklumlah, jumpa kawan-kawan masa sekolah dulu. Sambil tu, saya sempat membeli 2 buah buku iaitu "Catatan Hati Nik Nur Madiha" ditulis oleh Ummu Hani dan Terapi Solat Tahajud, Mohammad Salleh (kata pengantar: Dr. Danial Zainal Abidin).

Pada mulanya, saya ingin mencari buku "Lembaran Hidup Ulama" yang ditulis oleh sahabat MA Uswah di One Borneo, tapi puas saya pusing-pusing dalam kedai buku tu, saya tak jumpa. Akhirnya, saya jumpa buku ni. Saya tertarik pula ingin menyelami catatan hati Madihah yang saya kagumi. Tanpa berlengah, saya terus ambil dan membayarnya.

Saya prefer mereka yang bakal mengambil peperiksaan PMR dan SPM untuk membaca buku ini. Pelajar universiti juga harus mencontohi Madihah.

Alhamdulillah, saya sudah selesai membacanya. Saya sangat terpegun dan terkesima tatkala mengetahui liku-liku kehidupan Madihah yang sangat dilanda susah. Jiwa seorang Madihah yang begitu cekal dan bersemangat waja langsung tidak menjadikan kemiskinan sebagai penghalang untuknya berjaya. Malah, antara amalan yang sering diamalkan oleh idola saya ini adalah solat tahajjud, solat dhuha dan puasa tiap hari Isnin dan Khamis sejak berumur 12 tahun lagi. Masya Allah.

Merasa sangat malu dan terlalu kerdil dibandingkan diri saya dengan diri Madihah. Menyelami akan hidupnya yang dilingkari oleh kemiskinan sejak kecil, membuatkan saya lebih merasa malu dibandingkan dengan diri saya yang terlalu banyak nikmat yang Allah berikan. Benarlah, kekayaan itu sebenarnya adalah ujian yang lebih berat dibandingkan dengan kemiskinan, kerana itulah asbab yang menjadikan kita lalai dan lupa pada Tuhan.

Dan yang paling saya kagumi akan dirinya adalah prinsip yang dipegang dalam kejayaannya: Hablu minallah hablu minannas (hubungan dengan Allah, hubungan dengan manusia).


"Aku yakin, jika dua perkara ini menjadi peganganku, insya Allah pasti kejayaan mengiringi sepanjang hidupku; hablu minallah hablu minannas (hubungan dengan Allah, hubungan dengan manusia)". - Madihah

Ya, sungguh saya belajar dari seorang Madihah tentang ini. Subhanallah, begitu penting menjaga hubungan dengan Tuhan (Pencipta) dan manusia (ciptaan-Nya). Masya Allah. Kerana menjaga hubungannya dengan Tuhan, maka Allah melimpahkan kenikmatan dalam kemiskinan, kejayaan dan kegembiraan di dunia - Allah mencintainya. Kerana menjaga hubungan dengan manusia - manusia mencintainya. Mungkin juga penduduk bumi mencintai wanita yang soleh dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah ini.

"Yang pertama, jangan bercita-cita nak jadi doktor, jurutera dan sebagainya. Itu adalah cita-cita nak makan gaji. Tapi tanamlah azam untuk jadi orang cerdik, insya Allah kerja akan datang sendiri pada kita" - Nik Mohd Kamal (Ayah Madihah)

Sangat bijak si ayah yang hanya bekerja sebagai nelayan ini. Kalaulah semua ayah di dunia ini punya pemikiran seperti ayah Madihah, alangkah. Ya, saya akui dengan kenyataan itu. Tetapi malangnya, kita sekarang, belum pun mencari ilmu, sudah sibuk-sibuk bertanyakan tentang berapa gaji untuk seorang doktor? Berapa gaji untuk seorang jurutera? Pendek kata, harta juga faktor utama dalam menuntut ilmu.

Marilah kita belajar dari Madihah, hablu minallah hablu minannas. Jagalah hubungan dengan Allah tanpa mengabai hubungan dengan manusia. Jagalah hubungan dengan manusia tanpa melupai Allah Yang Esa.

Semoga Allah mengabulkan cita-cita Madihah sebagai seorang ahli fizik Islam yang berjaya dalam redha Allah. Ya Madihah, aku belajar sesuatu darimu. Terima kasih :)

Nota 1: Buat akhi MA Uswah, saya akan beli juga buku kamu nanti ;)

Nota 2: Saya sudah kehausan tazkirah dan usrah. Tolong!



Saturday, June 20, 2009

Home Sweet Home

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

Sungguh takku sangka, rupanya sudah 21 hari aku berada di Malaysia, bersamaan dengan 3 minggu selayaknya. Wah, aku benar hampir gila kalau terus begini. Nasib saja aku masih sedar aku sekarang memijak di tanah mana. Ya, Kota Kinabalu, tanah airku.

Maklum sahaja, sudah 6 bulan tidak memijak rumah yang kuibaratkan sebagai syurgaku ini. Sampai sahaja di sini, kulihat rumahku sudah berubah. Ya, rumahku dalam proses penambahan ruang untuk diperbesarkan. Ruang depan dan tepi dekat dengan pagar dipenuhi, sehingga tidak ada ruang lagi untuk rumput-rumput membiak. Semua sudah di tampal dengan batu-batu plumbum.

Ya, sungguh rumahku ini sudah menjadi semakin besar. Cuma, ada sesuatu yang membuatkanku sedih. Kedua-dua pokok mangga depan rumahku itu ditebang! Ya, ditebang!! Sungguh tak dapat aku terima kerana buah mangga yang dihasilkan oleh pokok mangga depan rumahku itu sangat sedap tak terkira. Aku kira, buah mangga dirumahku itu adalah buah yang paling tersedap di dunia. Serius. Waktu berbuahnya 2 kali setahun. Dan musimnya berbuah selalunya waktu pertengahan tahun dan akhir tahun. Kalau pokok mangga itu masih ada sekarang, sudah tentu aku dapat menikmati lagi buah mangga yang sangat manis itu. Tapi, sudah tidak ada :(

Pokok rambutan di tepi rumahku juga ditebang. Pokok kelapa dan pokok jambu di belakang rumahku juga mendapat nasib yang sama. Hancur dan luluh hatiku. Walaupun pelikkan? Rumah di tengah bandar tetapi dipenuhi oleh pokok buah-buahan - itulah rumah milik keluargaku :) Aku masih ingat, kami adik-beradiklah yang menanam anak pokok itu sewaktu masih kanak-kanak dulu. Hm. Kalau kamu mendapat peluang untuk merasa buah mangga di depan rumahku itu, tentu kamu mengiyakan pengakuanku: 'buah mangga rumahku paling tersedap di dunia.." *Belasungkawa* (-_-")

Kalau tadi hatiku sudah hancur dan luluh disebabkan penebangan pokok-pokok disekitar rumahku, kini rinduku begitu terubat bila bertemu dengan mereka yang kusayang dan rindu. Owh! mereka kucing-kucing kesayanganku. Walau anak si Putih yang dulu sudah tidak ada lagi. Yang ini kamu bakal saksikan anak-anaknya yang baru. Aku tidak tahu sudah keberapa generasi yang si Putih sudah lahirkan. Sebab semuanya hampir sama saja - berwarna putih dan hitam. Ini yang sempat aku tangkap sambil tergelak-gelak sampai terduduk melihat telatah comel mereka :)




Yeah.. bergusti!




Melihat telatah mereka membuatkan aku tak jemu dibandingkan melihat telatah menusia :)




Keluarga bahagia :)


Dan ini sedikit lakaran yang ingin aku pertontonkan sewaktu pertunangan kakakku pada tanggal 6 Jun tempoh hari. Kakakku sudah bertunang!




Sebenarnya ada lagi hantaran daripada pihak lelaki. Tapi, tertinggal dalam kereta :D


Insya Allah, hari Ahad ini aku dan serombongan keluargaku akan pergi meminang kepada bakal tunang abangku pula. Dahsyat kan? Nanti akanku usulkan ceritera-ceritera bersama lakaran yang bakal aku lakarkan di kanvas maya ini, agar sedikit merona rumah Wardatul Shaukah ku ini :) Dan please, aku tidak suka soalan ini: Who's next?

Salam hormat (-_-")

Nota: Waktu cuti ini, kalau ada sahabat-sahabat yang ada anjurkan program Islam atau halaqah, bolehlah ajak saya ya. Khusus buat sahabat-sahabat muslimat di Sabah yang sedang bercuti juga. Atau mungkin boleh buat daurah? Boleh kita buat halaqah sekali. Email saya ya..

Monday, June 15, 2009

Rencana, Takdir dan Cinta

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞


Andai kamu merasakan bahwa panas terik matahari itu membahang dan kamu sudah tidak tertahan oleh kepanasannya, maka ketahuilah bahwa kedinginan salju itu akan bisa membunuh kerana sifat dinginnya sampai membeku.

Andai kamu merasakan bahwa tanah yang kamu pijak waktu ini kering sehingga kemarau, sehingga kamu tidak bisa dapat bertahan dengannya, maka ketahuilah bahwa hujan bisa menyebabkan terjadinya banjir lalu musnah seperti tsunami melanda.

Andai kamu merasakan bahwa kabus itu kabur, ketahuilah bahwa dia pasti akan menjadi terang sesudah datangnya mentari mencipta tujuh warna pelangi untuk menghiasi cakerawala langit yang indah

Andai kamu merasakan takdir itu kamu yang memilihnya, ketahuilah bahwa takdir itulah yang memilihmu.

Lalu bagaimanakah konsep takdir yang harus bisa kita terima?

Hanya Allah yang memiliki dan mencipta takdir kita. Hanya Allah yang paling terhebat dalam merencana. Apa yang berlaku dalam hidup kita sejak azali lagi merupakan rencana yang sudah direka awal oleh-Nya.

Kita juga punya rencana. Tetapi rencana yang kita cipta bukan untuk diri kita semata. Tetapi untuk menyesuaikan dengan rencana Allah yang sudah lama tercipta buat kita.

Lalu, sekalian takdir sudah memilih diri kita, begitu banyak perbezaannya. Kadang, kita harus menerima apa yang tidak pernah kita minta. Kerana, setiap kejadian sudah terencana.

Dan, rencana kita adalah selayaknya untuk disesuaikan dengan rencana Allah. Bukan hanya untuk diri sendiri, bukan hanya amal di mata manusia. Tetapi, untuk apa lagikah selain untuk redha dari-Nya?

Andai kehidupan ini sudah terencana sepenuhnya lalu dicatat di Lauh Mahfuz, mengapa perlu kita ada rencana sendiri? Mengapa perlu kita disuruh usaha dan bekerja? Bukankah semua sudahpun tertulis dalam rencana Allah? Cuma, kita tidak tahu apa sahaja rencana yang Allah telah lakarkan.

Kamu hanya perlu bayangkan, kalau kesemua takdir kita telah diketahui sejak azali, apalah gunanya hidup ini lagi? Sudah tentu hidup ini tidak enak kerana tak punya 'surprise' yang mengejutkan. Kalau berita gembira datang menerpa, kita tidaklah segembira mana. Kalau berita sedih datang membondong, kita juga sudah pasrah. Kerana kita sudah tahu takdir kita dari awal lagi. Sungguh jelikkan kalau hidup diciptakan begitu? S
udah tentu kita tak mengenal erti usaha, erti cinta. Dan sudah tentulah kita takkan pernah kenal erti pengorbanan.

Begitu juga dengan cinta. Mata yang memandang menimbul rasa cinta. Telinga yang mendengar menimbul rasa cinta. Kebersamaan dengan kerap menimbul rasa cinta. Namun cinta pada Pencipta agak sukar dilaksanakan. Mengapa?

Kerana kita tidak menjadikan cinta itu sebagai kata kerja. Andai kamu mencintai seseorang, kamu bisa mengatakan "Saya tidak cinta dia", kerana cinta itu kata kerja. Andai kamu tidak mencintai seseorang, kamu juga bisa mengatakan, "Saya mencintai dia", kerana cinta itu kata kerja.

Cinta sang sahabat pada Allah dan Rasul-Nya langsung tidak diendah segala lelah, beban, dan derita. Mereka mengerjakannya kerana patuh, taat seadanya. Apa saja yang bakal diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, mereka akan berkata "Kami dengar dan kami taat.." (Q 2:275) dan mereka tidak punya alasan untuk ingkar dan mengeluh

Umar Al-Khattab berkata kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, sungguh aku mencintaimu sepertimana aku mencintai diriku sendiri."

Rasulullah tersenyum kemudiannya berkata; "Wahai Umar, aku seharusnya lebih kau cintai dari diri dan keluargamu."

Lantas Umar menjawab; "Ya Rasulullah, mulai hari ini engkau lebih kucintai dari semua yang ada di dunia ini."

Nah, itulah erti cinta yang didefinisikan oleh sang sahabat. Kerana cinta yang seharusnya dituntut di dunia ini bukan 'perasaan cinta'. Tetapi 'kerja cinta'. Cinta itu sudah meraja di dalam hati. Tapak untuk sang cinta di dalam hati. Maka, tugas kita adalah untuk mengerjakan cinta dan menggerakkannya.




Ya, cinta itu benar-benar indah andai kau bisa mengerjakannya :)


7:16 pm, Isnin,
Kuala Lumpur.


Nota 1: Artikel ini telah di 'translate' ke dalam Bahasa Inggeris oleh Arif Abdullah. Saya sangat terharu kerana tulisan saya sudi diterjemah. Sangat-sangat menghargai. Terima kasih akhi. Hanya Allah dapat membalas jasa baik akhi. Sebarkanlah apa yang bermanfaat. Semoga Allah meredhai semuanya :)


Nota 2: Al-fatihah buat Arwah Syeikh Fathi Yakan atas pemergiannya semalam. Terlalu banyak dan besar pengorbanannya buat umat Islam sehingga hari ini. Ya syeikh, semoga Allah merahmatimu dan menempatkanmu di kalangan orang-orang yang soleh..

Tuesday, June 2, 2009

Si Buta

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

Pernahkah kamu terbayangkan bagaimana keadaan kamu andai mata kamu menjadi buta? Mungkin tiada siapa pun di dunia ini dapat membayangkan bagaimana keadaan mereka apabila dijadikan buta selain orang buta sendiri. Sesungguhnya, kehilangan penglihatan mata memang sebuah musibah yang besar.




Kita mungkin akan membayangkan dunia yang penuh warna-warni ini tiba-tiba menjadi satu warna sahaja. Gelap. Cuma satu suasana. Siang dan malam menjadi serupa. Gunung dan laut tidak ada bezanya. Hutan atau padang sama saja. Kita tidak bisa melihat wajah-wajah. Semua jadi kelam. Kita harus berlatih untuk merasa menggunakan deria organ kita; melalui raba, aroma dan rasa.

Masya Allah. Sesungguhnya, kehilangan penglihatan mata merupakan musibah yang paling besar sekali. Begitulah yang terjadi pada seorang sang buta bernama Ibnu Abbas R.A. Dia selalu menangis kerana takut akan azab Allah sehingga butalah kedua matanya. Lalu seorang pemuda datang kepadanya dan berkata, "Duhai putra paman Rasulullah..". Ibnu Abbas hanya tersenyum lalu bersyair;

Jika Allah mengambil dari kedua mataku cahaya terang
Maka dalam hati dan fikirku ia masih bersinar cemerlang

Jiwaku cerdas, akalku lempang

Dan lidahku tajam seperti sebaik-baik pedang


Itulah dia, Ibnu Abbas yang mulia. Tangisannya kerana takut dan berharap kepada Allah semata sehingga menyebabkan matanya buta. Lalu, Allah berfirman di dalam hadis Qudsi yang berbunyi;

"Barangsiapa yang aku butakan kepada kedua matanya, lalu dia bersabar, akan aku ganti kedua matanya dengan syurga." (Hadis Qudsi)

Sesungguhnya, kehilangan penglihatan mata adalah musibah yang tidak mungkin kita, insan yang lemah dan hina ini membayangkan, tidak mungkin kita mampu menangis takutkan azab Allah sehingga mata menjadi buta sepertimana Ibnu Abbas yang mulia. Bibir yang tidak pernah dibasahi dengan zikir, hati yang tidak pernah merasa syukur, jiwa yang tidak pernah merindui Tuhan yang selayaknya dirindu, bagaimana mungkin kita tangiskan azab dan siksaan Tuhan?

BUTA HATI

Selain kehilangan penglihatan mata, ada lagi yang lebih berbahaya, iaitu yang menjadikan kita terhijab dengan kebenaran, yang menjadikan kita tidak punya arah dan tujuan; itulah dia buta hati. Maka, inilah musibah yang bukan sahaja hanya musibah besar, tetapi amatlah berbahaya.

Dilahirkan ke dunia tidak punya apa, dari tanah kembali ke tanah, tiada visi, tiada matlamat, tidak mendengarkan suara nurani, hati yang kosong.

"..kerana sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati di dalam dada" (Al-Hajj:22)

Kalau begitu, lebih bagus buta mata asalkan hatinya celik, dari buta hati yang tidak punya deria nurani. Maka, orang yang buta hati inilah amat berbahaya seperti dikatakan oleh Allah;

"Dan engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan engkau tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) kecuali kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, maka orang-orang itulah yang berserah diri (kepada Kami)." (Ar-Rum:53)


Maka dengan itu, perbaikilah hati sebelum ianya menjadi buta. Kosongkan hati hanya bersedia untuk dicurahkan Nur Ilahi. Teruskan diri kita untuk menghitung diri, menghisab segala iman dan amal, penuhkan kekosongan hati bak gelas yang kosong itu, lalu dituangkan dengan segala harapan, rindu, kasih, cinta dan ketergantungan hanya pada Yang Maha Pemurah.

Jangan biarkan hati ini buta, bisu dan tuli.

"Rabb, berikanlah kepadaku kekuatan untuk mencintaiMu dengan seluruh kudratku. Janganlah Kau biarkan hati ini dicemari oleh sesiapapun untukku mencintaiMu.."

11.57 pm
1 Jun 2009